Rabu, 10 Juli 2013

Pesona Minahasa Utara

AGENDA KEGIATAN 2013

JANUARI
  • Fasilitasi Pelaksanaan Festival Kolintang Nasional Piala Ibu Negera Ani Yudhoyono Kerjasama dengan PINKAN
  • Fasilitasi Pelaksanaan Kongres II PINKAN
FEBRUARI
Fasilitasi Pelaksanaan Upacara Adat Tulude Kabupaten Minahasa Utara

MARET
Monitoring & Pemantauan 

APRIL
Fasilitasi Kegiatan Pacuan Roda Sapi Tradisional

MEI
  • Meeting Pameran GWBN 2013 di Ballrom Soesilo Soedarman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta
  • Konsultasi Program PNPM Mandiri Pariwisata Tahun 2013 di Ditjen Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta
  • Meeting Pembekalan Tim Teknis PNPM Mandiri Pariwisata di Hotel Grand Central Manado
  • Koordinasi Finalisasi Keikutsertaan Pameran Dalam Negeri Tahun 2013 di Keassistenan II Setda Provinsi Sulut
  • Meeting Persiapan Pameran NSTTI di Kantor IT Center Manado
  • Mengikuti Pameran Gebyar Wisata dan Budaya Nusantara Tahun 2013 di JCC - Jakarta
  • Mengikuti Pameran North Sulawesi Tourism, Trade and Investment Expo 2013 di MTC - Manado
JUNI
Sosialisasi Kepariwisataan di Aula Pongkor Suwaan

 JULI
Mengikuti Festival Senggigi & Senggigi Fair 2013 di Kabupaten Lombok Barat

AGUSTUS
  • Pelatihan Pemandu Wisata
  • Seminar Sadar Wisata
SEPTEMBER
  • Mengikuti Nyong dan Noni Sulut
  • Mengikuti Festival Bunaken 2013
  • Mengikuti Pameran HUT Provinsi Sulawesi Utara tahun 2013
  • Mengikuti Pameran Kemilau Sulawesi


Sabtu, 08 Juni 2013

Festival Kolintang Nasional











Festival Kolintang Tingkat Nasional 2013, memperebutkan Piala Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono dibuka Bupati Minahasa Utara Drs. Sompie S.F Singal, MBA yang dilaksanakan oleh PINKAN bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara berlangsung sukses bertempat di Kebun Kel. Singal - Polii Desa Matungkas Kec. Dimembe pada tanggal, 26 - 27 Januari 2013.

 

Senin, 20 Juni 2011

Historis/Sejarah

Dari Tountewoh Menjadi Tonsea

Sesudah dua purnama selesai dan sesudah dimusyawarahkan pembagian wilayah di Watu Pinabetengan maka Tanah Minahasa dibagi atas empat wilayah besar yaitu :
  • Etnis Tombulu
  • Etnis Tountewoh/Tonsea
  • Etnis Tompekewa/Tountemboan
  • Etnis Toulour/Tondano
Istilah Tontewoh diganti menjadi Tonsea pada tahun 1679. Palar dan Anes (1994) mengutip tulisan J.GF. Ridel (1898) “ De Watu Rerumeran ne Empung of De Steenen Zetel der Empungs in de Minahasa”, bahwa pengelompokan besar turunan Toar dan Lumimuut yang terjasi dalam peristiwa pembagian wilayah di Watu Pinabetengan atau disebut peristiwa “Pinawetengan in Nuwu” telah terjadi “Teluh Na Weteng” atau tiga bahagian yaitu:
  • Kelompok Taranak Menyusu : Simuruh se Touw un Buluh atau yang menjadi cikal bakal orang Tombulu.
  • Kelompok Taranak Niyaranan : Simuru se Touw un Tewoh atau menjadi cikal bakal orang Tountewoh yang kelak menjadi Tonsea
  • Tumaratas : Simuruh se Touw un Kimbut atau cikal bakal Tompakewa-Tountemboan.
Terdegar suara dari seseorang yakni Tonaas Kopero “seorang Tonaas/Pemimpin perang” dari Tompekewa, didampingi Tonaas Muntu-Untu dari Tombulu dan Tonaas Mandei dari Tountewoh-Tonsea, Tonaas Kopero berkata :
“ …… E S A KITA PELANG! ESA WOAN PAWETENGAN. KUMIHIT UN POSAN. TAAN KITA PELANG ESA! MAESA WIA UNTRP! MAESA MASARU SE KASEKE WANA NGKOST!”

 
Pengertiannya kurang lebih :
“…… Satu Kita Semua! Satu lalu dipisahkan tempat. Karena jalan kebaktian agama. Tapi kita semua satu! Satu di bagian dalam, bersatu menghadap musuh dari luar! Inilah taar/pesan terpenting.”

Sesudah perkataan demikian, maka berangkatlah masing-masing kelompok ke tempat yang sudah ditentukan dalam persatuan anak suku.

  • Kelompok Tombulu ke arah Utara dipimpin oleh Tonaas Wailan, Mapumpun, Belung dan Kekeman ke Menyesu.
  • Kelompok Tompakewa ke arah Barat Laut menempati Kaiwasian di sebelah Timur Tombasian sekarang.
  • Kelompok Tolour ke arah Timur pergi ke Atep dipimpin oleh Tonaas Singal.
  • Kelompok Tountewoh ke arah Timur Laut dipimpin oleh Tonaas Wadian Walalangi dan Rogi.
Mereka kemudian bermukim di suatu tempat bernama Niaraan atau Niyatanan di sebelah Timur Tenggari. Kemudian berpindah ke Kembuan atau Kinembuan dibawah pimpinan Tonaas Umboh. Mereka riba ditempat itu dan disambut oleh seekor “Kooko Ni Mamarimbing” olehnya tempat tumani baru ini disebut Kinembuan disingkat Kembuan. Kinembuan ni Kooko artinya temp[at ayam keluar yang dianggap sebagai satu tanda dan berkat dari Empung kata mereka. Di kembuan mereka mendapat nama baru, “Touw un Sea-Pakasaan Touw un Sea”. Lokasi Kembuan banyak terdapat pohon sea yang dapat digunakan sebagai ramuan obat tradisional (makatana). Oleh sebab itu orang-orang yang tinggal di wilayah idisebut “ Tou un Sea”. Riedel juga menjelaskan dalam tulisannya “De Minahasa in 1825” bahwa dahulu terdapat walak yang disebut Tounsumea. Sumea dalam bahasa setempat berarti mampir, membelok, membangkang,menghindar. Kemudian nama ini diberikan dalam kaitanya dengan teranak-teranak asal Tountewoh yang meninggalkan induk kelompoknya dan mendirikan pemukiman baru. Nama Tonsea mulai dikenal sejak terjadi Verbond 1679 – Kontrak Perjanjian Persahabatan Minahasa-Belanda.
Dalam perkembangan kemudian, mulai bertambah banyak ternak-ternak yang mulai keluar dari lokasi tumani-tumani pertama yakni di Kembuan. Beberapa kelompok teranak dibawah pimpinan tonaas masin g-masing mulai mencari wilayah tau tumani weru seperti:

- Tonaas Rurugala tumani Walantakan
- Tonaas Wenas Tumani Sinalahan
- Tonaas Roringtudus/Roringtulus tumani Tiwoho
- Tonaas Maramis tumani Kinerepu’an
- Tonaas Roringwalian tumani Kuhun
- Tonaas Sigarlaki dan Maidangkai tumani ke Maaron/Maadon
- Tonaas Runtukahu tumani ke Kumelembuai/Ayermandidi
- Tonaas Kapongoan dan Dotulung tumani ke Kema.